Laporan : Redaksi
Kamis, 6 Agustus 2026
Bidik.Info, Bengkulu Utara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara (BU), yang dipimpin era Bupati Arie Septia Adinata, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dikomandoi Agus Sulaiman, resmi memulai rencana pembangunan jalan penghubung Desa Air Menganyau 1, Desa Air Menganyau 2 dan Desa Tran Durian Amparan usai melaksanaka proses lelang proyek. Hal itu dapat dilihat aktivitas persiapan dilapangan, mulai dari proses titik nol maupun telah terpasangnya papan informasi proyek, maupun yang lainnya.
Belakangan ini ada kegelisahan dan kekecewaan warga masyarakat setempat terhadap pemerintah daerah era Bupati Arie Septia Adinata, karena hingga berita ini di terbitkan belum juga di kerjakan pihak kontraktor pelaksana, bahkan, warga mulai menduga pembangunan proyek tersebut kemungkinan telah dialihkan ke lokasi lain di luar wilayah desa mereka, karena papan informasi proyek yang sudah terpasang sebelumnya, di lepaskan alias dicabut kembali.
Berdasarkan keterangan Ade indra Gunawan, Kepala Desa Durian Amparan dan ketua forum kemunikasi Kepala Desa kecamatan Batik Nau menjelaskan, persiapan rencana titik nol pembangunan jalan itu, sudah dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bengkulu Utara bersama pihak pelaksana proyek, bahkan di lokasi telah terpasang papan informasi yang mencantumkan nilai anggaran sebesar Rp. 1.770.700 .000 bersumber dari APBD dengan jadwal pelaksanaan mulai tanggal 1 Juli 2026, yang dikerjakan CV. Antasena Perkasa, Namun hingga waktu yang ditentukan tidak kunjung ada tanda-tanda pergerakan aktivits pekerjaan. Bahkan papan informasi yang sempat terpasang kini sudah hilang dari lokasi.
“Proyek jalan yang dikerjakan CV. Antasena Perkasa, sampai hari ini belum ada tanda-tanda pergerakan aktivits pekerjaan. Bahkan papan informasi yang sempat terpasang kini sudah hilang dari lokasi. Kondisi ini memicu dugaan di kalangan masyarakat bahwa proyek yang sudah dinanti-nantikan sejak lama tersebut kemungkinan besar telah dialihkan ke tempat lain. Banuak warga khawatir anggaran dan pekerjaannya justru dipindahkan ke desa lain, padahal jalan ini sangat dibutuhkan warga untuk memperlancar transportasi sehari-hari maupun untuk memgangkut hasil bumi,” kata Kades.
Lanjut Ade indra Gunawan, harapan warga Desa Air Menganyau 1, Desa Air Menganyau 2 dan Desa Tran Durian Amparan jangan sampai pembangunan penghubung jalan tersebut batal atau dialihkan ke tempat lain. Mengingat pembangunan jalan yang telah direncanakan pihak pemerintah bersama lembaga DPRD tahun anggaran 2026 tersebut, sangat di butuh kan oleh masyarakat.
“Apa bila proyek penghubung Desa Air Menganyau 1, Desa Air Menganyau 2 dan Desa Tran Durian Amparan tahun anggaran 2026 itu, dibatalkan dan dialihkan ke lokasi lain, tentu kami selaku masyarakat di Bengkulu Utara sangat kecewa terhadap pemerintah daerah,” tegas Awan.
Edi Putra, selaku ketua komisi III, DPRD Bengkulu Utara bidang pembangunan mengatakan, sampai berita ini diterbitkan, belum ada pemerintah daerah maupun DPUPR mengajukan dan minta persetujuan lembaga Dewan, untuk perubahan lokus pembangunan yang telah disepakati sebelumnya.
“Anggaran pembagunan tahun 2026 sampai hari ini, belum ada pengajuan perubahan lokus lokasi pembangunan yang telah disepakati oleh pihak pemerintah daerah dan lembaga DPRD. Dinas terkait dan pemerintah derah tidak bisa memindahkan lokasi proyek yang telah disepakati asal-asalan, harus dilaksanakan sesuai dengan lokus sudah disepakati sebelimnya. Jika memang benar link pembangunan jalan penghubung Desa Air Menganyau 1, Desa Air Menganyau 2 dan Desa Tran Durian Amparan tersebut dipindahkan ke lokasi lain seharusnya tidak terjadi, apa lagi papan informsi proyek sempat telah terpasang dan sudah diketahui oleh masyarakat sekitar. Kita berharap tidak ada perubahan dan perbaikan maupun rekayasa administrasi baru nantinya,” tutup Edi.
Hingga berita ini diturunkan, Bupati belum bisa di temui dan Kepala Dinas PUPR Bengkulu Utara Agus Sulaiman, beberapa kali dihubungi belum juga bisa ditemui karana super sibuk dengan alasan selalu rapat hingga belum dapat memberikan keterangan secara resmi terkait dugaan pengalihan proyek maupun penyebab hilangnya papan informasi tersebut.
Editor : Redaksi.














